You are on page 1of 67

BAB 1

PENDAHULUAN
KLASTER Achamd Yani 08161001
Maulida R D 08161041
INDUSTRI Nuur Awaliyah
Raynaldi Sumbung
08161061
08161065
DAN Siti Dewi 08161077

AGLOMERASI
OUTLINE

PENDAHULUAN PEMBAHASAN PENUTUP

3 ADD A FOOTER MM.DD.20XX


BAB 1

PENDAHULUAN
Perkembangan Kota => Perkembangan Latar Belakang
Industri

Jika pengelolaan optimal, industri akan mendapatkan


keuntungan lebih dan semakin berkembang. Jika sektor
industri semakin berkembang, maka penyerapan tenaga
kerja juga akan semakin banyak. Hal itu menandakan bahwa
sektor industri pada dasarnya mampu mendorong
perekonomian suatu daerah.

Ketimpangan Persebaran Aglomerasi Industri


Industri (tidak merata)
Menyebabkan biaya produksi
dan distribusi meningkat Untuk itu diperlukan
5
sehingga menghambat pemusatan lokasi indstri
produktivitas dan transaksi guna memberikan
keuntungan aglomerasi
TUJUAN
o Konsep dari klaster industri dan aglomerasi
industri.
o Hubungan klaster dan aglomerasi industri
dalam ekonomi wilayah

6 ADD A FOOTER
BAB 1I

PEMBAHASAN
PENGERTIAN
KLASTER

Michael Porter Hubert Schmitz Michael J Enright

klaster adalah klaster didefinisikan mendefinisikan klaster


konsentrasi geografis sebagai kelompok sebagai sejumlah
perusahaan dan institusi perusahaan yang perusahaan yang sejenis
atau saling berkaitan, saling
yang memiliki hubungan berkumpul pada satu
berkumpul dalam suatu
pada sektor tertentu. lokasi dan bekerja pada batasan geografis tertentu.
sektor yang sama.
8 ADD A FOOTER MM.DD.20XX

Jadi, klaster adalah sekelompok usaha sejenis yang saling berhubungan dan berkumpul dalam satu lokasi.
CIRI-CIRI PENDEKATAN
KLASTER BERBASIS
EKONOMI
1. Competitiveness (daya saing)
o Maksudnya adalah ketika usaha-usaha sejenis berada dalam satu lokasi, itu akan memudahkan akses untuk
memperoleh bahan baku dan tenaga kerja, serta ongkos transportasi akan ikut berkurang sehingga menghemat
waktu dan biaya produksi. Hal itu mendorong produktivitas suatu usaha semakin meningkat sehingga daya
saing juga akan ikut meningkat.

o Selain itu keberadaan usaha-usaha itu dalam satu kawasan juga memudahkan mereka membaca peta persaingan
sehingga memicu munculnya inovasi baru untuk meningkatkan daya saing.

o Misalnya klaster bakpia di Yogyakarta dimana masing-masing produsen mempunyai keunggulannya tersendiri.

9 ADD A FOOTER MM.DD.20XX


CIRI-CIRI PENDEKATAN
KLASTER BERBASIS
EKONOMI

2. Economic Specialization 3. Spatial Identity


o berkaitan dengan usaha atau orelevan dengan agen dan
aktivitas yang saling berhubungan. organisasi di dalam klaster atau
o Misalnya : klaster budaya di Solo diluar klaster.
(Keraton Kasunanan Surakarta)
oContoh : asosiasi peternak susu
terhubung dengan klaster
perdagangan oleh-oleh khas Solo Lembang dan kelompok petani apel
(Pasar Klewer). Malang

10 ADD A FOOTER MM.DD.20XX


PENGERTIAN CLUSTER
INDUSTRI

DEPERINDAG
o Dalam istilah, klaster memiliki pengertian kelompok, himpunan, atau
gabungan obyek tertentu yang memiliki keserupaaan atau dasar
karakteristik tertentu. Dalam ekonomi/ bisnis, kluster industri adalah
kelompok industri dengan focal/ core industri yang saling
berhubungan secara intensif dan membentuk partnership, baik
dengan supporting industry maupun related industry
11 ADD A FOOTER MM.DD.20XX
Menurut Lyon dan Atherton (2000) terdapat tiga hal yang mendasar yang dicirikan
oleh kluster industri, terlepas dari perbedaan struktur, ukuran, maupun sektornya,
yaitu:

KESAMAAN/ KESATUAN KONSENTRASI KONEKTIVITAS


Yaitu bisnis-bisnis dalam bisnis Terdapat pengelompokan Terdapat organisasi yang
yang terkait satu dengan bisnis-bisnis yang dapat dan saling terkait/ bergantung
yang lainnya berfokus pada benar-benar melakukan dengan beragam jenis
pasar yang sama interaksi hubungan yang berbeda

12
PERKEMBANGAN
KLASTER INDUSTRI

o Kebijakan pengembangan kluster industri di Indonesia sudah dimulai sejak


tahun 2000, melalui PROPENAS (Program Pembangunan Nasional) tahun
2000-2004, pendekatan kluster industri sudah dijabarkan didalam dokumen
PROPENAS. Beberapa Institusi Pemerintahan juga telah mengembangakan
kluster industri

13 ADD A FOOTER MM.DD.20XX


PERKEMBANGAN
KLASTER INDUSTRI

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)


• bekerjasama dengan UNDP dan UNCHS dalam proyek Poverty Alleviation through Rural-
Urban Linkage (PARUL) yang berupaya meningkatkan keterkaitan desan dan kot disuatu
provinsi atau kabupaten yang dipilih.

Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM)


• menggunakan pendekatan kluster sebagai kebijakaan pemberdayaan Usaha Kecil dan
Menengah (UKM) dalam program pengembangan kluster Usaha Micro, Kecil dan
Menengah (UMKM)
14 ADD A FOOTER MM.DD.20XX
PERKEMBANGAN
KLASTER INDUSTRI

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)


• memprakarsai percontohan klaster industri daerah dalam pengembangan unggulan
daerah

Kementrian Riset dan Teknologi


• pendekatan klaster akan menjadi landasan kebijakan dibidang riset dan teknologi,
khususnya dalam pengembangan techno-industrial dan aliansi strategis.
15 ADD A FOOTER MM.DD.20XX
PERKEMBANGAN
KLASTER INDUSTRI
Persebaran Klaster
Kalimantan
9%

Indonesia Timur
12%

Jawa-Bali
Sulawesi 48%
12%

Sumatera
16 ADD A FOOTER 19% MM.DD.20XX
Sumber : Japan
International
Cooperation Agency
KELEBIHAN KLASTER
INDUSTRI

klaster industri yang berbasis pada komunitas publik


memiliki kelebihan yang baik bagi industri itu sendiri
maupun untuk perekonomian di wilayahnya. Bagi
industri, klaster membawa keuntungan sebagai berikut:

17 ADD A FOOTER MM.DD.20XX


KELEBIHAN KLASTER
INDUSTRI

Lokalisasi Ekonomi
• Dengan memanfaatkan kedekatan lokasi, industri yang menggunakan input
(informasi, teknologi) yang sama dapat menekan biaya perolehan dalam
penggunaan jasa tersebut.

Pemusatan Tenaga Kerja


• Klaster akan menarik berbagai tenaga kerja dengan berbagai keahlian yang
dibutuhkan oleh tiap kluster, sehingga industri pelaku klaster akan mudah dalam
memenuhi kebutuhan tenaga kerja dan mengurangi biaya pencarian tenaga kerja.
18 ADD A FOOTER MM.DD.20XX
KELEBIHAN KLASTER
INDUSTRI

Akses pada pertukaran informasi dan patokan kinerja


• Industri yang telah tergabung dalam klaster dapat dengan mudah memonitor
dan bertukar informasi mengenani kinerja dan nasabah potensial yang mana
berdampak terhadap peningkatan produktivitas dan perbaikan produk

Produk Komplemen
• Dengan lokasi yang berdekatan, produk dari suatu pelaku kluster akan memiliki
dampak penting bagi aktivitas usaha industri yang lain. Selain itu kegiatan usaha
yang saling melengkapi ini dapat bergabung dengan pemasaran bersama.
19 ADD A FOOTER MM.DD.20XX
PELAKU KLASTER
INDUSTRI

MARKET PEMANFAATAN
PERENCANAAN
DRIVEN SUMBER DAYA

20 ADD A FOOTER MM.DD.20XX


PELAKU KLASTER
INDUSTRI

Dalam tahap ini melibatkan partisipasi semua stakeholder


kunci yang ada, menjadi penting agar agenda program
benar-benar realistis dan dapat diterima oleh stakeholder
PERENCANAAN sehingga dalam pelaksanaan mereka bukan hanya
mendukung tetapi juga memberikan kontribusi pada
berbagai kegiatan, yang pada gilirannya sangat
menentukan tingkat keberhasilan program.

21 ADD A FOOTER MM.DD.20XX


PELAKU KLASTER
INDUSTRI

Menekankan solusi kolaboratif pada isu-isu bersama dari

MARKET seluruh stakeholder (Pemerintah, BUMN dan swasta besar,


pelaku UKM dan berbagai lembaga sumber inovasi; bersifat
strategic yang membantu stakeholder menciptakan visi
DRIVEN strategis bersama yang menyangkut ekonomi serta value-
creating, yang mengupayakan penciptaan atau peningkatan
nilai tambah pelaku ekonomi.

22 ADD A FOOTER MM.DD.20XX


PELAKU KLASTER
INDUSTRI

Adanya proses partisipatif yang menjadi kerangka dalam


PEMANFAATAN melakukan pekerjaan yang disepakati dengan mitra kerja
dan stakeholder dalam pengembangan model bisnis
SUMBER DAYA
yang berkelanjutan. Bersifat pemberdayaan masyarakat.

23 ADD A FOOTER MM.DD.20XX


POLA KLASTER
INDUSTRI
MODEL DIAMOND

24 ADD A FOOTER MM.DD.20XX


POLA KLASTER
INDUSTRI

Faktor Input
Faktor input dalam analisis Porter adalah variable-variablel yang sudah ada dan
dimiliki oleh suatu cluster industri seperti sumber daya manusia (human resource),
modal (capital resource), infrastruktur (infrastructure), serta sumber daya alam.
Semakin tinggi kualitas faktor input ini, maka semakin besar peluang industri untuk
meningkatkan daya saing dan produktivitas.

25 ADD A FOOTER MM.DD.20XX


POLA KLASTER
INDUSTRI

Kondisi Permintaan
Kondisi permintaan menurut diamond model dikaitkan dengan sophisticated and
demanding local customer. Semakin maju suatu masyarakat dan semakin demanding
pelanggan dalam negeri, maka industri akan selalu berupaya untuk meningkatkan
kualitas produk atau melakukan innovasi guna memenuhi keinginan pelanggan lokal
yang tinggi.

26 ADD A FOOTER MM.DD.20XX


POLA KLASTER
INDUSTRI

Industri Pendukung dan T erkait


Adanya industri pendukung dan terkait akan meningkatkan efisiensi dan sinergi
dalam klaster. Sinergi dan efisiensi dapat tercipta terutama dalam transactioncost,
sharing teknologi, informasi maupun skill tertentu. Manfaat lain industri pendukung
dan terkait adalah akan terciptanya daya saing dan produktivitas yang meningkat.

27 ADD A FOOTER MM.DD.20XX


POLA KLASTER
INDUSTRI

Strategi Perusahaan dan pesaing


Strategi perusahaan dan pesaing dalam diamond model juga penting karena kondisi
ini akan memotivasi perusahaan atau industri untuk selalu meningkatkan kualitas
produk yang dihasilkan dan selalu mencari inovasi baru.

28 ADD A FOOTER MM.DD.20XX


POLA KLASTER
INDUSTRI

Konsentrasi pekerja
berdekatannya para tersedianya
trampil dan peluang
pemasok dan pelayanan fasilitas/transfer
penyerapan tenaga kerja
khusus pengetahuan
lokal yang lebih besar

29 ADD A FOOTER MM.DD.20XX


POLA KLASTER
INDUSTRI MARKUSSEN

Distrik Distrik Hub


Distrik Satelit
Marshallian And Spoke

Distrik State-
30 ADD A FOOTER
anchored MM.DD.20XX
DISTRIK MARSHALLIAN

Distrik Marshallian mencakup layanan yang relatif khusus disesuaikan


dengan produk-produk unik/industri daerah.Layanan tersebut meliputi
keahlian teknis, mesin dan pemasaran, dan pemeliharaan dan layanan
perbaikan.Di dalam distrik terdapat lembaga keuangan lokal yang
menawarkan bantuan modal, bersedia mengambil resiko jangka
panjang karena mereka memiliki kedua informasi orang dalam dan
adanya kepercayaan pengusaha di perusahaan lokal.
31 ADD A FOOTER MM.DD.20XX
DISTRIK INDUSTRI HUB
DAN SPOKE

Sejumlah perusahaan inti bertindak sebagai jangkar atau hub ke


perekonomian daerah, pemasok dan kegiatan yang terkait
menyebar di sekitar mereka seperti jari-jari roda. Di mana sebuah
perusahaan tunggal yang besar membeli dari pemasok lokal
maupun eksternal dan menjual kepada pelanggan eksternal.

32 ADD A FOOTER MM.DD.20XX


DISTRIK STATE-
ANCHORED

Secara umum, distrik State-Anchored didominasi satu atau beberapa


perusahaan besar, skala ekonomi relatif tinggi pada sektor publik, investasi
dilakukan secara lokal berbagai tingkat pemerintahan, kontrak dan
komitmen jangka pendek antara institusi dominan dan pemasok bahan
baku lokal, keterkaitan antar sesama pengusaha di dalam dan di luar
klaster relatif kuat.
33 ADD A FOOTER MM.DD.20XX
STRATEGI KLUSTER
INDUSTRI
Klaster • Klaster pada tahapan awal perkembangan
embrio

Klaster • Klaster yang mempunyai ruang untuk perkembangan lebih lanjut


tumbuh

Klaster • Klaster yang stabil atau akan sulit untuk lebih berkembang
dewasa

Klaster • Klaster yang sudah mencapai puncak dan sedang mengalami penurunan. Klaster pada tahap ini sekali
menuru waktu mampu untuk menemukan kembali dirinya dan masuk ke dalam siklus perkembangan yang baru lagi
n
34 ADD A FOOTER MM.DD.20XX
AGLOMERASI INDUSTRI

35 ADD A FOOTER MM.DD.20XX


KONSEP AGLOMERASI
INDUSTRI
DEFINISI AGLOMERASI INDUSTRI

Markusen menyatakan bahwa


Menurut Marshall, Agglomeration
Menurut Montgomery (1988), aglomerasi merupakan suatu lokasi
economies atau localized industries
aglomerasi adalah konsentrasi spasial yang “tidak mudah berubah” akibat
muncul ketika sebuah industri memilih
dari aktivitas ekonomi di kawasan adanya penghematan eksternal yang
lokasi untuk kegiatan produksinya yang
perkotaan karena penghematan akibat terbuka bagi semua perusahaan yang
memungkinkan dapat berlangsung dalam
lokasi yang berdekatan (economies of letaknya berdekatan dengan
jangka panjang sehingga masyarakat
proximity) yang diasosiasikan dengan perusahaan lain dan penyedia jasa-
akan banyak memperoleh keuntungan
kluster spasial dari perusahaan, para jasa, dan bukan akibat kalkulasi
apabila mengikuti tindakan mendirikan
pekerja, dan konsumen. perusahaan atau para pekerja secara
usaha disekitar lokasi tersebut
individual

36 ADD A FOOTER
Suatu aglomerasi tidak lebih dari sekumpulan kluster industri dan merupakan MM.DD.20XX
konsentrasi dari aktivitas ekonomi dari penduduk secara spasial yang muncul karena
adanya penghematan yang diperoleh akibat lokasi yang berdekatan
HUBUNGAN KLASTER
INDUSTRI DAN
AGLOMERASI

Klaster industri adalah


Klaster industri yaitu hubungan erat
aglomerasi dari industri Konsep Aglomerasi :
yang mengikat perusahaan dan
yang saling terkonsentrasinya
industri tertentu secara bersama
berkompetisi dan beberapa faktor
misalnya lokasi geografis, sumber-
berkolaborasi di suatu produksi yang
sumber inovasi, pemasok dan faktor
daerah, yang dibutuhkan pada suatu
produksi bersama, dan lainnya
membentuk jaringan lokasi,
(Bergman dan Feser, 1999)
EDA (1997)

Sehingga, dapat diketahui bahwa klaster industri dan aglomerasi memiliki hubungan erat karena
klaster industri merupakan pengelompokkan industri dapat secara lokasi geografis nya yang
menjadikan
37 pusat industri menjadi terkonsentrasi pada suatu tempat yang merupakan konsep
ADD A FOOTER dari
MM.DD.20XX

aglomerasi.
KONSEP AGLOMERASI
INDUSTRI
TEORI AGLOMERASI INDUSTRI

Teori
Teori Pemilihan
Teori Neo- Teori Ekonomi Teori Kutub
Eksternalitas Lokasi
Klasik Geografi Baru Pertumbuhan
Dinamis Kegiatan
Industri

38
ADD A FOOTER MM.DD.20XX
KONSEP AGLOMERASI
INDUSTRI
TEORI NEO-KLASIK
Aglomerasi muncul dari perilaku para pelaku ekonomi dalam mencari keuntungan aglomerasi berupa ekonomi lokalisasi dan
ekonomi urbanisasi

Aglomerasi muncul karena para pelaku ekonomi berupaya mendapatkan penghematan aglomerasi (agglomeration
economies), baik karena penghematan lokasi maupun penghematan urbanisasi, dengan mengambil lokasi yang saling
berdekatan satu sama lain

Aglomerasi ini mencerminkan adanya sistem interaksi antara pelaku ekonomi yang sama

Adanya persaingan sempurna sehingga kekuatan sentripetal aglomerasi disebut sebagai ekonomi eksternal murni.

39 Keterbatasan teori neo klasik : melihat bahwa ekonomi eksternal yang mendorong adanya aglomerasi masih dianggap sebagai misteri
ADD A FOOTER MM.DD.20XX
(blackbox). Disamping itu sistem perkotaan neo klasik adalah non spasial yang hanya menggambarkan jumlah dan tipe kota tetapi
tidak menunjukkan lokasinya
KONSEP AGLOMERASI
INDUSTRI
TEORI EKSTERNALITAS DINAMIS
Jacob percaya bahwa
Menurut Marshall-
transfer pengetahuan
Arrow-Rommer (MAR), Porter mengatakan
paling penting adalah
monopoli lokal bahwa dengan transfer
berasal datang dari
merupakan hal yang pengetahuan tertentu,
Kedekatan geografis industri-industri inti.
lebih baik kosentrasi industri
memudahkan Variasi dan
dibandingkan dengan secara geografis akan
transmisi ide, maka keberagaman industri
kompetisi lokal sebab mendorong
transfer teknologi yang berdekatan
lokal monopoli pertumbuhan.
merupakan hal secara geografis akan
menghambat aliran ide Kompetisi lokal lebih
penting bagi kota mendukung inovasi
dari industri lain dan penting untuk
dan pertumbuhan
eksternalitas mempercepat adopsi
dibandingkan dengan
diinternalisasi oleh inovasi
spesialisasi secara
40 innovator
ADD A FOOTER geografis
MM.DD.20XX
KONSEP AGLOMERASI
INDUSTRI
TEORI EKONOMI GEOGRAFI BARU
Berupaya untuk menurunkan efek-efek aglomerasi dari interaksi antara besarnya pasar, biaya transportasi dan increasing return
dari perusahaan

Menekankan pada adanya mekanisme kualitas sirkular untuk menjelaskan konsentrasi spasial dari kegiatan ekonomi

Dalam model tersebut kekuatan sentripental berasal dari adanya variasi konsumsi atau beragam intermediate good pada sisi
produksi. Kekuatan sentrifugal berasal dari tekanan yang dimiliki oleh konsentrasi geografis dari pasar input lokal yang
menawarkan harga lebih tinggi dan menyebarkan permintaan. Jika biaya transportasi cukup rendah maka akan terjadi
aglomerasi

Dalam perkembangan teknologi, transfer pengetahuan antar perusahaan memberikan insentif bagi aglomerasi kegiatan ekonomi. Dengan
asumsi masing-masing
41 perusahaan menghasilkan informasi yang berbeda-beda, manfaat interaksi meningkat seiring dengan jumlah perusahaan.
Karena interaksi ini informal, perluasan pertukaran informasi menurun dengan meningkatnya jarak. Hal ini memberikan insentifMM.DD.20XX
ADD A FOOTER
bagi perusahaan
untuk berlokasi dekat dengan perusahaan lain sehingga menghasilkan aglomerasi
KONSEP AGLOMERASI
INDUSTRI
TEORI KUTUB PERTUMBUHAN
Perroux mengatakan, pertumbuhan tidak muncul di berbagai daerah dalam waktu yang sama. Pertumbuhan hanya terjadi di
beberapa tempat yang disebut sebagai pusat pertumbuhan dengan intensitas yang berbeda

Dalam proses pembangunan akan


Pemusatan industri pada suatu Perekonomian merupakan
timbul industri unggulan yang
daerah akan mempercepat gabungan dari sistem industri
merupakan industri penggerak
pertumbuhan perkonomian, yang relatif aktif (industri
utama dalam pembangunan
karena pemusatan industri akan unggulan) dengan industri yang
suatu daerah. Karena keterkaitan
menciptakan pola konsumsi yang relatif pasif yaitu industri yang
industri satu sama lain sangat erat,
berbeda antar daerah sehingga tergantung dari industri unggulan
maka pembangunan industri
pembangunan industri disuatu atau pusat pertumbuhan. Daerah
unggulan akan mempengaruhi
daerah akan mempengaruhi yang relatif maju atau aktif akan
perkembangan industri yang lain
perkembangan industri di daerah mempengaruhi daerah yang
yang berhubungan erat dengan
yang lainnya. relatif pasif.
industri unggulan tersebut.
42
Perroux, pembangunan
ADD A FOOTER ekonomi didaerah tidak merata dan cenderung terjadi proses aglomerasi pada pusat-pusat pertumbuhan
MM.DD.20XX

→ pusat-pusat pertumbuhan akan mempengaruhi daerah yang lambat perkembangannya → muncl manfaat-manfaat tertentu
yaitu keunggulan secara ekonomis (usaha dalam jumlah besar) dan keuntungan penghematan biaya
KONSEP AGLOMERASI
INDUSTRI
TEORI PEMILIHAN LOKASI KEGIATAN
INDUSTRI

Perbedaan Biaya Transportasi Perbedaan Biaya Upah

Produsen cenderung mencari lokasi yang Produsen cenderung mencari lokasi dengan
memberikan keuntungan berupa penghematan tingkat upah tenaga kerja yang lebih rendah
biaya transportasi serta dapat mendorong dalam melakukan aktivitas ekonomi sedangkan
efisiensi dan efektivitas produksi. tenaga kerja cenderung mencari lokasi dengan
Coase (1937), penghematan biaya transaksi tingkat upah yang lebih tinggi.
(biaya transportasi, biaya transaksi, biaya Adanya suatu tingkat wilayah dengan tingkat
kontrak,
43 biaya koordinasi dan biaya komunikasi)
ADD A FOOTER
upah yang tinggi mendorong tenagaMM.DD.20XX
kerja
dalam penentuan lokasi perusahaan untuk terkonsentrasi pada wilayah tersebut.
KONSEP AGLOMERASI
INDUSTRI
KEUNTUNGAN AGLOMERASI INDUSTRI

Keuntungan Lokalisasi
(Localization • Banyak tenaga kerja yang tersedia
• Adanya faktor-faktor produksi yang
tidak dapat dibagi yang hanya
Economies) tanpa membutuhkan latihan khusus
dan semakin mudah memperoleh
diperoleh dalam jumlah tertentu
• Berhubungan dengan sumber tenaga-tenaga yang berbakat.
• Kalau dipakai dalam jumlah yang
bahan baku atau fasilitas • Mendorong didirikannya
lebih banyak, biaya produksi per
sumber perusahaan jasa pelayanan
unit akan jauh lebih rendah
masyarakat yang sangat diperlukan
dibandingkan jika dipakai dalam • Dengan menumpuknya oleh industri→biaya dapat ditekan
jumlah yang lebih sedikit. industri, maka setiap industri lebih rendah
merupakan sumber atau pasar
bagi industri yang lain Keuntungan Ekstern
44 Keuntungan Internal
ADD A FOOTER (keuntungan
MM.DD.20XX
Perusahaan
urbanisasi)
KONSEP AGLOMERASI
INDUSTRI
MANFAAT AGLOMERASI INDUSTRI
Mengurangi pencemaran atau Memudahkan pemantauan
Mengurangi kemacetan di
kerusakan lingkungan, karena dan pengawasan, terutama
perkotaan, karena lokasinya
terjadi pemusatan kegiatan industri yang tidak mengikuti
dapat disiapkan di sekitar
sehingga memudahkan dalam ketentuan yang telah
pinggiran kota
penanganannya disepakati

Dapat menekan biaya


Tidak mengganggu rencana
transportasi dan biaya
tata ruang
45
ADD A FOOTER produksi serendah mungkin. MM.DD.20XX
KONSEP AGLOMERASI
INDUSTRI
FAKTOR PENYEBAB AGLOMERASI INDUSTRI

Terkonsentrasinya beberapa faktor produksi yang dibutuhkan pada suatu lokasi

Kesamaan lokasi usaha yang didasarkan pada salah satu faktor produksi tertentu

Adanya wilayah pusat pertumbuhan industri yang disesuaikan dengan tata ruang dan fungsi wilayah

Adanya kesamaan kebutuhan sarana, prasarana, dan bidang pelayanan industri lainnya yang lengkap
46
ADD A FOOTER MM.DD.20XX

Adanya kerjasama dan saling membutuhkan dalam menghasilkan suatu produk


PERSPEKTIF
AGLOMERASI INDUSTRI

PERSPEKTIF • Pendekatan Penghematan


KLASIK yaitu Penghematan Lokalisasi
dan Penghematan Urbanisasi
• Pendekatan Eksternalitas

• Pendekatan Eksternalitas
Dinamis
• Paradigma Pertumbuhan
PERSPEKTIF Perkotaan
MODERN • Geografi Ekonomi Baru
• Analisis Biaya Transaksi
47
ADD A FOOTER MM.DD.20XX
KEKURANGAN AGLOMERASI
INDUSTRI
KEKURANGAN :

1. Mengakibatkan kesenjangan sosial-ekonomi,


jikapembangunan hanya terkonsentrasi di
satu pusat saja, maka jelas sekali daerah-
daerah lainnya atau pulau-pulau lainnya tidak
akan dapat berkembang karena pemerintah
hanya mendorong dan memfasilitasi pada
satu pusat tersebut. Akibatnya munculah
istilah yang namanya disparitas
pembangunan yaitu fenomena dimana
terjadinya ketidakmerataan pembangunan
antarwilayah
48
ADD A FOOTER MM.DD.20XX
PERKEMBANGAN AGLOMERASI DI
INDONESIA
Sejak masa pemerintahan orde baru, negara Indonesia berusaha memajukan sektor industri. Hal ini
terbukti dengan banyak didirikannya perusahaan–perusahaan industri hampir di seluruh wilayah di Indonesia,
khususnya di Pulau Jawa

Terlepas dari keterbatasan yang ada, Indonesia juga berusaha menggalakan industrialisasi. Salah satu hal
yang mendukung perkembangan sektor industri adalah aglomerasi industri. Hal ini disebabkan aglomerasi
industri menggabungkan dua atau lebih industri di suatu wilayah tertentu agar pengelolaannya bisa optimal. Jika
pengelolaan optimal, industri akan mendapatkan keuntungan dan berkembang

Contoh Aglomerasi Industri yaitu di Menurut Sodik (2007) aglomerasi industri di Indonesia belum merata.
Wilayah Provinsi Jakarta misalnya, Perkembangan industri yang pesat di Indonesia ternyata lebih
industri di sana beraglomerasi dengan mengarah ke pulau Jawa dan Sumatera.
industri di sekitarnya seperti Bekasi, Daerah industri yang paling menonjol di pulau Jawa adalah
Depok, Bogor dan Tangerang Jabotabek Extended Industrial Area (EIA). Jabotabek dapat dikatakan
daerah aglomerasi industri terbesar di Indonesia.
49
ADD A FOOTER MM.DD.20XX
HUBUNGAN KLASTER INDUSTRI DAN AGLOMERASI
DENGAN PERTUMBUHAN EKONOMI WILAYAH
Hubungan antara klaster industri dan aglomerasi dengan pertumbuhan ekonomi wilayah di kabupaten/ kota
seharusnya berpengaruh signfikan terhadap pertumbuhan ekonomi regional.
Namun berbeda dengan Indonesia yang bukan merupakan negara industri maju, aglomerasi bukan menjadi
suatu kriteria yang baik untuk mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang disebabkan aglomerasi yang ada
di Indonesia itu tidak banyak dan tidak merata (Sodik, 2007).
Menurut Kuncoro (2002), perkembangan industri manufaktur yang pesat di Indonesia ternyata lebih
mengarah ke pulau Jawa dan Sumatera yang jelas terlihat mencolok untuk industri besar dan menengah
(IBM). Provinsi-provinsi di pulau Jawa dan provinsi-provinsi di pulau-pulau lain di Indonesia secara jelas
menggambarkan ketimpangan distribusi aktivitas industri.
Daerah industri yang paling menonjol di pulau Jawa adalah Jabotabek Extended Industrial Area (EIA).
Surabaya dan Bandung sebagai perbandingan ternyata masih kurang dari separuh skala Jabotabek yang
mampu menyerap tenaga kerja yang banyak, sedangkan nilai tambah yang diciptakan Jabotabek mencapai
separuh dari seluruh daerah industri utama di Indonesia.
50
STUDI KASUS

51
STUDI KASUS KLUSTER DAN AGLOMERASI INDUSTRI
TEKSTIL, BARANG KULIT DAN ALAS KAKI DI PROPINSI
JAWA TIMUR
Metode yang dilakukan
1. Identifikasi Kegiatan Industri Unggulan Tekstil, Barang Kulit, dan Alas Kaki
2. Daerah Konsentrasi Kegiatan Industri Tekstil Barang Kulit dan Alas Kaki
3. Analisa Indeks Spesialisasi dan Indeks Aglomerasi
4. Pola Spasial Kegiatan Industri Unggulan Tekstil, Barang Kulit, dan Alas Kaki

52
IDENTIFIKASI KEGIATAN INDUSTRI UNGGULAN
TEKSTIL, BARANG KULIT, DAN ALAS KAKI
Analisa gabungan antra nilai SLQ dan DLQ dijadikan kriteria dalam
menentukan wilayah subsesktor industri tersebut tergolong unggulan,
prospektif, andalan, atau tertinggal.

Kriteria SLQ < 1 SLQ > 1


DLQ > 1 Andalan Unggulan
DLQ < 1 Tertinggal Prospektif

53
GAMBAR PEMETAAN KEGIATAN INDUSTRI UNGGULAN
TEKSTIL, BARANG KULIT, DAN ALAS KAKI DI PROPINSI
JAWA TIMUR.

54
DAERAH KONSENTRASI KEGIATAN INDUSTRI
TEKSTIL BARANG KULIT DAN ALAS KAKI

• Penentuan daerah konsentrasi kegiatan industri di Propisnsi Jawa


Timur didasarkan besarnya nilai tambah kegiatan industri dan
jumlah tenaga kerja.
• Analisis yang digunakan adalah analisis GIS

55
GAMBAR DAERAH KONSENTRASI KEGIATAN INDUSTRI
BERDASARKAN NILAI TAMBAH DAN TENAGA KERJA DI
PROPINSI JAWA TIMUR.

56
ANALISA INDEKS SPESIALISASI DAN INDEKS
AGLOMERASI

• Analisa besarnya indeks spesialisasi kegiatan industri digunakan untuk


mengetahui tingkat spesialisasi industri dalam suatu wilayah kabupaten/kota
dibanding apabila industri tersebut tersebar secara random di seluruh Propinsi
Jawa Timur. Jika nilai > 1 maka Industri tersebut memiliki pangsa yang lebih
besar dalam penciptaan setiap lapangan kerja di kabupaten/kota tersebut
dibanding dengan pangsa industri tersebut di Propinsi Jawa Timur.
• Analisa besarnya indeks aglomerasi kegiatan industri digunakan untuk
mengetahui tingkat aglomerasi industri dalam suatu wilayah kabupaten/kota
yang mendorong terjadinya konsentrasi spasial.

57
GAMBAR DISTRIBUSI INDEKS SPESIALISASI INDUSTRI
TEKSTIL, BARANG KULIT DAN ALAS KAKI DI PROPINSI
JAWA TIMUR.

58
GAMBAR DISTRIBUI INDEKS AGLOMERASI INDUSTRI
TEKSTIL, BARANG KULIT DAN ALAS KAKI DI PROPINSI
JAWA TIMUR.

59
POLA SPASIAL KEGIATAN INDUSTRI UNGGULAN
TEKSTIL, BARANG KULIT, DAN ALAS KAKI

• Perumusan pola spasial kegiatan industri unggulan tekstil, barang kulit dan
alas kaki dilakukan melalui dua tahap.
• Tahap pertama, dilakukan analisa pemetaan indeks spesialisasi aglomerasi
dengan melakukan pendekatan tipologi wilayah.
• Tahap yang kedua, merupakan tahapan merumuskan pola kegiatan industri
tekstil, barang kulit dan alas kaki. Adapun pola kegiatan industri pada
penelitian ini didasarkan atas wilayah yang memiliki keunggulan di industri
ini, kemudian dari konsentrasi kegiatan industri dan tipologi wilayahnya.
60
GAMBAR TIPOLOGI WILAYAH KONSENTRASI KEGIATAN
INDUSTRI BERDASARKAN TINGKAT SPESIALISASI-
AGLOMERASI DI PROPINSI JAWA TIMUR.

61
GAMBAR POLA KEGIATAN INDUSTRI TEKSTIL, BARANG
KULIT, DAN ALAS KAKI DI PROPINSI JAWA TIMUR.

62
BAB 1II

PENUTUP
KESIMPULAN
• Klaster industri adalah kelompok industri sejenis yang berkumpul dalam satu lokasi dan saling berhubungan secara

intensif dan membentuk partnership.

• Aglomerasi merupakan konsentrasi/pengelompokkan dari berbagai aktivitas ekonomi dan penduduk secara spasial

yang muncul karena adanya penghematan yang diperoleh akibat lokasi yang berdekatan.

• Hubungan klaster dan aglomerasi industri bagi perekonomian wilayah terkait produktivitas industri suatu wilayah

bisa jauh lebih optimal baik dari segi waktu dan biaya produksi sehingga keuntungan yang diperoleh bisa lebih

maksimal. Apabila keuntungan yang diperoleh meningkat, maka sektor industri tersebut akan berkembang dan

membutuhkan penyerapan tenaga kerja yang semakin banyak. Hal itu menandakan bahwa sektor industri pada

dasarnya mampu mendorong perekonomian suatu daerah.


64
Lesson Learned
Melalui konsep kluster dan aglomerasi industri ini bisa membantu industri kecil untuk mengembangkan usaha

dan meningkatkan daya saingnya. Hal itu dikarenakan adanya klaster, usaha-usaha sejenis mempunyai kesempatan

yang sama untuk memperoleh informasi, terjadi transfer ilmu dan teknologi, supply bahan baku (sumber daya

alam), tenaga kerja terampil, dan modal menjadi lebih efektif dan efisien melalui partnership.

Selain itu adanya aglomerasi industri sebagai pemusatan berbagai macam industri dalam

suatu wilayah dapat memberikan keuntungan yang lebih besar kepada berbagai industri pada

wilayah tersebut. Salah satu keuntungan dengan adanya aglomerasi industri, biaya transportasi

(distribusi) menjadi lebih hemat sehingga biaya produksi bisa ditekan, dengan harapan bisa

65 memperoleh keuntungan yang lebih maksimal melalui kerjasama atau hubungan fungsional

antara pabrik/industri satu dengan industri lainnya yang ada di lokasi tersebut.
Lesson Learned
Akan tetapi, adanya aglomerasi ini juga menyebabkan kesenjangan di beberapa
daerah. Maksudnya, jika konsentrasi industri tersebut hanya dilakukan di satu pusat saja (di
Pulau Jawa saja) maka hal itu akan menimbulkan ketimpangan baik sosial maupun ekonomi
di wilayah lainnya. Hal itu dikarenakan pemerintah hanya mendorong dan memfasilitasi pada
satu pusat itu saja, sehingga dalam perencanaan baik aspek yang ada di dalam maupun di
luar aglomerasi harus dipertimbangkan.

66
THANK YOU!