You are on page 1of 50

Anatomi dan Fisiologi

Hidung dan Sinus Paranasal

Pembimbing :
dr. Siti Nurhikmah, Sp.THT-KL, M.Kes

Rachelle Betsy
406172058
Kepaniteraan Klinik THT-KL
RSUD RAA Soewondo Pati
Periode 11 Maret – 14 April 2019
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
Anatomi Hidung
 HIDUNG LUAR (Nasus eksternus):
 Radix nasi
 Apex nasi
 Dorsum nasi
 Naris
 Alae nasi
 Basis nasi
 HIDUNG DALAM (Nasus internus):
 rongga hidung
 septum nasi
NASUS EKSTERNUS
Hidung luar berbentuk
piramid dengan bagian-
bagiannya dari atas ke
bawah:
1. Pangkal hidung (bridge)
2. Dorsum nasi
3. Puncak hidung
4. Ala nasi
5. Kolumela
6. Lubang hidung (nares anterior)
 Dibentuk oleh tulang & cartilago hyaline  fleksibel
 Ditutupi oleh otot dan kulit
Kerangka hidung luar
1. Bagian tulang
a. os nasale
B. proc. frontalis os maxillae
C. pars nasalis os frontalis
2. Pars cartilaginosa
a. Cartilago nasi lateral
b. Cartilago alaris major
c. Cartilago septi nasi
d. Cartilagines alares minores
HIDUNG DALAM (Nasus Internus)
 Cavum nasi (rongga hidung)
 Superior (Atap) lamina cribriformis os
ethmoidale, disini terdapat n. olfaktorius
 Inferior (Dasar)  processus palatinus os
maxilla dan lamina horizontalis os palatina
 Anterior  nares
 Posterior  choana
 Lateral  choncha nasalis
 Medial  Septum nasi

MEDIAL WALL OF THE NASAL CAVITY – THE NASAL SEPTUM


Cavum nasi (rongga hidung)
 terdapat tonjolan & lipatan selaput lendir hidung yg disebut konka tdd :
- konka nasalis inferior
- konka nasalis media
- konka nasalis superior
 Meatus nasi superior : ruang antara konka nasalis
media dengan superior
 Meatus nasi inferior : ruang antara dasar cavum nasi dengan konka nasalis
inferior
 Meatus nasi media : ruang antara konka nasalis
inferior dengan media
Cavitas nasalis membagi cavitas nasi menjadi
beberapa saluran :
Recessus -Terletak diatas concha nasalis superior
sphenoethmoidalis -Muara sinus sphenoidalis
Meatus nasi superior -Terletak antara concha nasalis superor & concha nasalis media
-Muara sinus ethmoidales posterior
Meatus nasi media -Terletak antara concha nasalis media & concha nasalis inferior
-Muara sinus frontalis,maxilaris, & ethmoidales anterior
Meatus nasi inferior -Terletak antara concha nasalis inferior & palatum durum
-Muara ductus nasolacrimalis

Mukosa cavitas nasi


1/3 superior -Area olfaktorius
-Mukosa berwarna kuning  epitel olfaktorius
-Mengandung cabang2 Nervus Olfactorius (saraf penciuman)

2/3 inferior -Area respiratorius


-Mukosa mengandung kapiler & epitel saluran napas dan bnyk sel goblet
-Menghangatkan & melembabkan udara pernafasan
Perdarahan
 Arteri
- A. Spenopalatina
- A. ethmoidalis
anterior
- A. ethmoidalis
posterior
- A. palatina major
- R. septalis A.labialis
superior
- R. nasalis lateralis
- R. nasalis a.
infraorbitalis
HIDUNG DALAM

Os frontalis
Os nasale

Konka media

Konka inferior

Septum nasi Os maxillaris

Cavum nasi

created by rolanda
HIDUNG DALAM (Nasus Internus)

 Septum nasi
 Lamina perpendicularis os
ethmoidalis
 Os vomer
 Krista nasalis os palatina
 Cartilago septi nasi (lamina
kuadrangularis)
 Kolumela
Anatomi & Fisiologi Hidung
 Batang hidung (dorsum nasi):
 Bagian keras (kranial) : os nasalis kanan/kiri, pros.frontalis os.maxilla
 Bagian lunak (kaudal) : kartilago lateralis dan kartilago alaris
 Diantara konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit (meatus) :
 Meatus inferior  terdapat muara ductus nasolakrimalis
 Meatus medius  terdapat muara sinus frontalis, sinus maksilaris dan sinus etmoid
anterior
 Meatus superior  terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid
 Septum nasi
 Menopang dorsum nasi dan membagi 2 kavum nasi.
• Bagian posterior terdiri atas tulang: lamina perpendikularis os ethmoidalis, vomer
• Bagian anterior terdiri atas rawan : kartilago quadrangularis
Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periosteum pada
bagian tulang, luarnya dilapisi oleh mukosa hidung
EA EP
14

SfP

PM
ARTERI PADA SEPTUM DAN DINDING
RONGGA HIDUNG:
Arteri penting :
etmoidalis anterior(EA) dan etmoidalis posterior(EP),
Sfenopalatina(SfP), palatina mayor(PM).
Pleksus Kiesselbach di area Little di bagian depan
septum nasi
Fisiologi Hidung

Fungsi Hidung:
1. OLFAKTORI
2. RESPIRATORI
3. FILTRASI
4. AIR CONDITIONING
5. VOCAL RESONANCE
6. PROSES BICARA
7. REFLEK NASAL
Fisiologi Hidung

 Sebagai jalan nafas


 Inspirasi :
 Udara masuk melalui nares anterior  naik ke atas setinggi konka media 
turun ke bawah ke arah nasofaring sehingga aliran udara berbentuk
lengkungan atau arkus
 Ekspirasi :
 Udara masuk melalui nares posterior  sama seperti inspirasi. Tapi pada
bagian depan udara memecah, sebagian ke nares anterior dan sebagian
lain ke belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari
nasofaring
Fisiologi Hidung

 Pengatur kondisi udara (air conditioning)


 Untuk mempersiapkan udara yang akan masuk ke dalam alveolus paru
 Dilakukan dengan cara mengatur kelembapan udara dan mengatur suhu
 Mengatur kelembapan :
 Dilakukan oleh palut lendir (mucous blanket)

 Mengatur suhu
 Banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan
septum yang luas radiasi dapat berlangsung secara optimal
 Suhu udara setelah melalui hidung ± 37 °C
Fisiologi Hidung

 Sebagai penyaring dan pelindung


 Dilakukan oleh rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi, silia, palut lendir (mucous
blanket), dan enzim lysozyme
 Debu dan bakteri akan melekat pada palum lendir dan partikel-partikel besar
akan dikeluarkan dengan refleks bersin
 Indera penghidu
 Ada mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan 1/3
bagian atas septum
 Partikel bau mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau
bila menarik nafas dengan kuat.
Fisiologi Hidung

 Resonansi suara
 Penting untuk kualitas suara saat berbicara dan menyanyi
 Sumbatan hidung  resonansi berkurang atau hilang  suara sengau (rinolalia)
 Proses bicara
 Membantu proses pembentukan kata-kata
 Kata dibentuk oleh lidah, bibir, palatum mole
 Pembentukan konsonan nasal (m,n,ng) rongga mulut tertutup dan hidung terbuka,
palatum mole turun untuk aliran udara
 Refleks nasal
 Reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna, kardiovaskuler dan
pernafasan
 Contoh : iritasi mukosa hidung  refleks nafas dan bersin berhenti
FISIOLOGI HIDUNG
FISIOLOGI PENGHIDU

 Alat pencium trdpt dlm rongga hidung dr ujung saraf otak


nervus olfaktorius
 Serabut saraf ini timbul pd bag atas selaput lendir hidung 
area olfaktoria
 N. olfaktorius dilapisi oleh sel2 yg sangat khusus yg
mengeluarkan fibril2 yg halus, terjalin dg serabut2 dr bulbus
olfaktorius
 Bulbus olfaktorius mrpkan lanjutan dr bagian otak yg ujung2
akhirnya menembus lempeng kribiformis dasar tulang otak (os
ethmoidalis) yg berlubang2
 N. olfaktorius terletak pd os ethmoidalis
 Dari bulbus olfaktorius, penciuman dihantarkan melalui traktus
olfaktorius menuju pusat olfaktoria pd otak bagian lobus
temporalis, tempat penciuman ditafsirkan
FISIOLOGI PENGHIDU

 Bau yg masuk ke rongga hidung akan merangsang n. olfaktorius di bulbus


olfaktorius  traktus olfaktorius  mencapai daerah penerima akhir dlm pusat
olfaktorius pada lobus temporalis di otak besar tempat penafsiran bau.
 Rangsangan reseptor  respon terhadap senyawa - senyawa yang kontak
dengan epitel olfaktorius dan larut dalam lapisan mukus
 Ambang olfaktorius yg menggambarkan sensitivitas reseptor olfaktorius
terhadap sejumlah senyawa yg dapat dicium pada konsentrasi >500pg/L
diubah 30% dari sebelum dapat dideteksi.
 Molekul penghasil bau mengandung 3-20 atom karbon yg memiliki bau yang
berbeda
FISIOLOGI PENGHIDU

 Manusia dpt membedakan 2000-4000 bau yg berbeda


& menghasilkan pola ruang yg berbeda dr peningkatan
aktivitas metabolik di dlm olfaktoria
 Bau khusus bergantung pd pola ruang perangsangan
reseptor dlm membran mukosa olfaktorius
 Bila seseorang secara kontinyu terpapar pada bau yg
paling tidak disukai perserpsi bau menurun lalu
berhenti. Ini disebabkan oleh adaptasi yg cukup cepat
yg timbul dlm sistem olfaktorius
FISIOLOGI PENGHIDU

Indera penghidu :
 Akan melemah bila selaput lendir hidung sangat kering, terlalu basah,
atau membengkak spt saat influenza
 Akan menghilang akibat cedera pd kepala
 Batas ambang meningkat seiring pertambahan usia
ANATOMI SINUS PARANASAL

Sinus maksila
kanan dan kiri

Sinus frontal
kanan dan kiri,

Sinus ethmoid
kanan dan kiri

Sinus sfenoid
kanan dan kiri
Anatomi Sinus Paranasal
ANATOMI SINUS PARANASAL - SINUS FRONTALIS

System drainase :
-Meatus medialis melalui ductus frontonasalis
-Melalui ostium yg terletak di resesus frontal yang
berhubungan dg infundibulum etmoid.

-Inervasi : n. Opthalmicus
-Vaskularisasi : a. Etmoidales anterior
ANATOMI SINUS PARANASAL - SINUS MAXILLARIS

Sinus paranasal yang terbesar (antrum Highmore)


Drainase :
Ostiumnya terletak lebih tinggi dari sinus maxillaris
shg drainase hanya bergantung pada gerak silia
dan bermuara pada hiatus semilunaris

Volume ~ 15 mL
ANATOMI SINUS PARANASAL - SINUS SPHENOID

Letak : di dalam os sphenoid di belakang sinus


etmoid posterior.
Batas :
Superior : fossa cerebri – hipofisis
Inferior : atap nasofaring
Lateral : sinus kavernosus, a. Carotis interna
Posterior : fossa cerebri posterior
Dibagi dua oleh septum intersphenoid.

Volume : ~ 5-7,5 mL
ANATOMI SINUS PARANASAL – ETHMOID LABYRINTH

Fokus infeksi bagi sinus-sinus lainnya.


Struktur : berongga, seperti sarang tawon, labirin
Berdasarkan letak :
Anterior  bermuara di meatus medialis
Posterior  bermuara di meatus superior
ANATOMI SINUS PARANASAL – KOMPLEKS
OSTIOMEATAL

Kompleks ostiomeatal (KOM) adalah bagian


dari sinus etmoid anterior yang berupa celah
pada dinding lateral hidung yang dibatasi oleh
konka media dan lamina papirasea.
KOM merupakan unit fungsional yang
merupakan tempat ventilasi dan drainase dari
sinus-sinus yang letaknya di anterior, yaitu
sinus maksila, etmoid anterior dan frontal.
ANATOMI SINUS PARANASAL – KOMPLEKS OSTIOMEATAL

Struktur anatomi yang


membentuk KOM

Prosesus Infundibulum
Unsinatus, Etmoid,

Hiatus
Bula Etmoid,
Semilunaris,

Ressus
Agger Nasi
Frontal
ANATOMI SINUS PARANASAL – KOMPLEKS
OSTIOMEATAL

 KOM  unit fungsional yg merupakan


tempat ventilasi dan drainase dari
sinus yang letaknya di anterior : sinus
maksilaris, etmoid anterior dan frontal
 Inervasi hidung
 Mukosa dekat atap kavum nasi (medial & lateral) mengandung serabut-serabut
nervus olfaktorius
 Vaskularisasi Rongga hidung
 Anterior septum, anastomosis dari a.sphenopalatina, a.palatina mayor, a.labialis
superior & a.etmoidalis anterior yang membentuk PLEKSUS KIESSELBACH atau
LITTLE AREA terletak superfisial sehingga menajdi sumber perdarahan yang terse
ring pada epiktasis anterior.
 Posterior septum, terdapat pleksus Woodruff yang di bentuk oleh anastomosis
dari a. sfenopalatina, a.nasalis posterior dan a.faringeal ascendens
Fisiologi Hidung
 Fungsi Respirasi: air conditioning, penyaring udara, humidifikasi, penyeimbang dalam
pertukaran tekanan, mekanisme imunologik lokal
 Fungsi Penghidu: terdapat mukosa olfaktorius
 Fungsi Fonetik: resonansi suara, membantu proses bicara, dan mencegah hantaran suara
sendiri melalui konduksi tulang
 Fungsi Statik & Mekanis : u/ meringankan beban kepala, proteksi thd trauma dan pelindung
panas
 Refleks Nasal: Mukosa hidung reseptor yang berhubungan dengan saluran cerna,
kardiovaskular, dan pernapasan. Contoh:
 Iritasi mukosa hidung menyebabkan reflex bersin dan batuk terhenti
 Rangsangan dari bau tertentu menyebabkan sekresi dari kelenjar liur, lambung dan pankreas
Fisiologi Hidung
 Alat penciuman terdapat dalam rongga hidung dari ujung saraf otak n.olfaktorius
 Serabut saraf ini timbul pada bagian atas selaput lender hidung --> area olfaktoria
 N.olfaktorius dilapisi oleh sel-sel yg sangat khusus yang mengeluarkan fibril-fibril yg halus,
terjalin dengan serabut dari bulbus olfaktorius
 Bulbus olfaktorius merupakan lanjutan dari otak yang ujung-ujung akhirnya menembus
lempeng kribiformis dasar tulang otak (os ethmoidalis) yg berlubang-lubang
 N.olfaktorius terletak pada os ethmoidalis
 Dari bulbus olfaktorius, penciuman dihantarkan melalui traktus
olfaktorius menuju pusat olfaktoria pada otak bagian lobus
temporalis, tempat penciuman ditafsirkan
 Bau yg masuk ke rongga hidung akan merangsang n.olfaktorius
dibulbus olfaktorius
 Indera bau bergerak lewat traktus olfaktorius dengan perantaraan
stasiun penghubung hingga mencapai daerah penerima akhir
dalam pusat olfaktorius pada lobus temporalis di otak besar tempat
penafsiran bau tersebut
 Rasa penciuman dirangsang oleh gas yang masuk dan akan mudah
hilang pada bau yang sama dalam waktu lama
 Rangsangan reseptor hanya berespon terhadap senyawa-senyawa
yang kontak dengan epitel olfaktorius dan di larutkan dalam lapisan
tipis mucus yg menutupinya
 Ambang olfaktorius yang menggambarkan sensitivitas hebat
reseptor olfaktorius terhadap sejumlah senyawa yang dapat dicium
pada konsentrasi >500pg/L diubah 30% dari sebelum dapat di
deteksi
 Molekul penghasil bau mengandung 3-20 atom karbo yang memiliki
bau yang berbeda
 Manusia dapat membedakan 2000-4000 bau yg berbeda dan
menghasilkan pola ruang yg berbeda dari peningkatan aktivitas
metabolik di dalam olfaktoria
 Bau khusus bergantung pada pola ruang perangsangan reseptor
dalam membran mukosa olfaktorius
 Bila seseorang secara continue terpapar pada bau yang paling
tidak disukai, maka persepsi bau menurun lalu berhenti. Ini
disebabkan oleh adaptasi yang cukup cepat yang timbul dalam
system olfaktorius
Indera penciuman:
 Akan melemah bila selaput lendir hidung sangat kering, terlalu basah, atau membengkak
seperti saat influenza
 Akan menghilang akibat cedera pada kepala
 Batas ambang meningkat seiring pertambahan usia

Kelainan penghidu:
 Anostomia = tidak adanya indera penciuman
 Hiposmia = pengurangan sensitivitas olfaktorius
 Disosmia = indera penciuman berubah
Anatomi & Fisiologi Sinus Paranasalis
1. Gol. Anterior:
- Sinus maksilaris, sinus etmoidalis anterior, sinus frontalis
- Ostia dari sinus ini didapati dalam meatus medius
- Pus dalam meatus medius mengalir ke vestibulum nasi
2. Gol. Posterior:
- Sinus etmoidalis posterior, sinus sfenoidalis
- Ostia dari sinus ini didapati dalam meatus superior
- Pus dalam meatus superior mengalir kedalam faring
Sinus paranasal
 ada 8 sinus paranasal  4 kanan dan 4 kiri
 Merupakan hasil pneumatiisasi tulang-tulang kepala  terbentuk rongga di dalam tulang
 Dilapisi oleh mukosa yg merupakan lanjutan dari mukosa hidung
PEMBEDA S MAXILLARIS S FRONTALIS S SPHENOIDALIS S ETHMOIDALIS
LETAK Dalam corpus maxillaris Dalam os frontale; Dalam corpus ossis Dalam os
dipisahkan oleh sphenoidalis ethmoidalis, di
septum tulang antara hidung dan
(sering orbita
menyimpang dari
bidang median)

MUARA Dalam meatus nasi Dalam meatus nasi Dalam recessus Anterior : dalam
medius melalui hiatus medius melalui sphenoethmoidalis infundibulum
semilunaris infundibulum di atas concha Media : dalam
nasalis superior meatus nasi medius,
pada atau diatas
bulla ethmoidalis
Posterior : meatus
nasi superior

PERSARAFAN n. Alveolaris superior n. Supraorbitalis n. Ethmoidalis n. Ethmoidalis


MEMBRAN dan n. Infraorbitalis posterior anterior dan
MUCOSA posterior
Fisiologi Sinus Paranasal

 Fungsi sinus paranasalis belum diketahui secara pasti


 Beberapa teori yg dikemukakan ttg fungsi sinus paranasalis:
 Sebagai pengatur kondisi udara
 Sebagai penahan suhu
 Membantu resonansi suara
 Peredam perubahan tekanan udara
 Membantu produksi mucus u/ membersihkan rongga hidung
 Keseimbangan kepala
Fisiologi Sinus Paranasal

 Sbg pengatur kondisi udara (air conditioning):


 Sinus berfungsi sbg ruang tambahan utk memanaskan dan mengatur
kelembapan udara inspirasi.
 Sbg penahan suhu (thermal insulators):
 Sbg penahan panas, melindungi orbita dan fosa serebri dari suhu
rongga hidung yg berubah-ubah.
 Membantu keseimbangan kepala:
 Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat
tulang muka.
Fisiologi Sinus Paranasal

 Membantu resonansi suara:


 Sinus berfungsi sbg rongga utk resonansi suara dan mempengaruhi
kualitas suara.
 Sbg peredam perubahan tekanan udara:
 Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yg besar dan
mendadak, mis pada waktu bersin atau membuang ingus.
 Membantu produksi mukus:
 Mukus yg dihasilkan oleh sinus paranasal efektif utk membersihkan
partikel yg turut masuk dgn udara inspirasi karena mukus ini keluar dari
meatus medius.