You are on page 1of 38

TEKNIK-TEKNIK ANALISIS

EKONOMI WILAYAH
PENDEKATAN DASAR
PERENCANAAN EKONOMI WILAYAH

1. PENDIDIKAN MANDIRI

2. STRATEGI PEMBANGUNAN

3. PROJEK
INFORMASI & KEBUTUHAN ANALITIS :

ELEMEN DASAR ANALISIS EKONOMI MASYARAKAT


(Shaffer, 1889)

 Titik fokus analisis KOMUNITAS/MASYARAKAT

 Bentuk Kepemimpinan & inisiatif komunitas dapat diakses secara


internal dan eksternal

 Sumberdaya (SDA, SDM, SDB, SDS) komunitas

 Partisipasi masyarakat : data inti pembangunan tipe informasi dan


interpretasinya

 Analisis ekonomi masyarakat bersifat holistik (keterpaduan dimensi


SDM, fisik, & ekonomi)

 Perilaku anggota masyarakat harus dijelaskan sebagai peluang &


kendala dalam analisis ekonomi
INFORMASI &KEBUTUHAN ANALITIS :

Informasi dibutuhkan dalam perencanaan


pembangunan ekonomi local

Segmen -1 : data dasar sosial ekonomi


 Wilayah demografi
 Kondisi pasar kerja
 Karaktersitik ekonomi
 Kondisi fisik/lokasi
 Layanan Jasa masyarakat

Segmen -2 : kapasitas pembangunan masyarakat


TABEL ASPEK-ASPEK DI CERMATI DALAM
ANALSISI DATA DASAR SOSIAL EKONOMI
Struktur Faktor-faktor Kondisi
NO Populasi Tenaga kerja
ekonomi masyarakat fisik/lokasi
1 Karakteristik utama Kekuatan tenaga kerja Bentuk kini & Kekuatan asset Aset
penduduk lokal ada trend ekonomi masyarakat sumberdaya
local paling utama
2 Asset khusus Kelemahan tk ada Kelemahan Asset butuh Kekuatan
sektor ekonomi perhatian khusus situasi ,
kondisi lokasi
dan geografi
3 Kelemahan profil Kebutuhan tenaga Peluang Kohesifitas Aspek
populasi kerja diversifikasi & kepemimpinan di kelamahan
kebutuhn masyarakat kondisi
ekonomi sumberdaya
fisik loka
4 Area potensial Kebutuhan Area
peningkatan profil pendidikan&pelatihan pertumbuhan
populasi (migrasi) ekonomi
5 Aset lain menjadi Kelompok tk butuh
kendala perhatian khusus
TIPE KOLEKSI & ANALISIS DATA

1. Mengumpulkan data terkini melibatkan dari


perencana local, lembaga layanan jasa, dan
pengetahuan local

2. Survei dengan metode tertentu untuk


memenuhi kebutuhan informasi atau
memperoleh informasi pada topik-topik
tertentu (mis: konsultan, organisasi local,
komite pensasehat, staf perencanaan,
perguruan tinggi, mahasiswa)

3. Pemanfaatan hasil analisis kuantitaif


TUJUAN PENGUMPULAN & ANALISIS
DATA
1. Menentukan iklim pembangunan ekonomi di suatu daerah (data
ekonomi dan politik) untuk memutuskan tujuan

2. Menentukan lembaga mana yang terlibat dalam pembangunan


ekonomi saat ini untuk koordinasi dan perencanaan

3. Menentukan apakah pembangunan ekonomi saat ini harus


dijalankan oleh pemerintah sendiri atau dikordinasikan dengan
lembaga lain

4. Mengidentifikasi kendala koordinasi yang timbul di tiap daerah,

5. Mengembangkan dukungan bagi pengembangan aktifitas ekonomi


pada kelompok masyarakat, kelompok politik, serikat pekerja, dan
lain-lain

6. Mengembangkan langkah-langkah nyata sbg upaya


pendampingan/pengawasan kemajuan pembangunan ekonomi
METODE KUANTITIF LOCAL & REGIONAL
Asumsi

 Komunitas/masyarakat sebagai unit ekonomi


terintegrasi layaknya ekonomi nasional

 Ekonomi local : produksi, impor, dan ekspor barang &


jasa untuk local maupu non-local

 Model digunakan lebih lengkap ketika diaplikasikan


pada wilayah lebih luas (mis : regional, nasional)
untuk menilai kapasitas ekonomi suatu daerah

 Teknik analisi sebagai proksi ekonomi local yang


merupakan bagian dari sistem ekonomi lengkap.
KETERKAITAN &
PERTUMBUHAN EKONOMI

Tujuan : Mengukur keterkaitan ekonomi local


dengan lingkungan ekonomi sekitarnya

Teknik : Memberikan ukuran komparasi


(perbandingan) atau deskripsi status
ekonomi local

Shifat Share Analysis (SSA):

INTI : Menganalisis perubahan struktur ekonomi local


dibandingkan terhadap perekonomian daerah referensi
(mis : ekonomi daerh, nasional, negara)
LANJUT….
 Ekonomi masyarakat dianalisi dapat lebih kecil
atau lebih besar berada dalam ekonomi referensi
 Ekonomi referensi dapat lebih kecil atau lebih
besar
 Namun SSA tidak sesuai untuk analisis pada
tingkat daerah berdekatan
DATA & INFORMASI
DIPEROLEH DARI SHIFT SHARE
ANALYSIS

1. Pertumbuhan ekonomi (economic growth) : mengukur


pertumbuhan ekonomi dalam bentuk total tenaga kerja,
PDRB, produktifitas dst….dalam ekonomi referensi antara
dua period waktu

2. Pergesar proporsional (propotional shift) :mengukut laju


pertumbuhan ekonomi sektor-sektor ekonomi dibandingkan
dengan pertumbuhan total ekonomi referensi

3. Pergeseran diferensial (differential shift) : membantu


menentukan seberapa besar daya saing ekonomi/industri
local dibandingkan ekonomi referensi

 Mengukur laju pertumbuhan sektor ekonomi/industri local


dibandingkan sektor sejenis pada ekonomi referensi
 Pergeseran diferensial bertanda positif pada suatu sektor
industri/ekonomi menunjukkan bahwa sektor itu tumbuh lebih cepat
dibandingkan sektor sejenis pada ekonomi referensi
Kebutuhan data SSA
 Tenaga kerja dari dua tahun referensi (ekonomi local
maupun ekonomi referensi)
 PDRB dari dua tahun referensi (ekonomi local
maupun ekonomi referensi)
 Produksi/produktifitas dari dua tahun referensi
(ekonomi local maupun ekonomi referensi)
Formula SSA
Δ tenaga kerja tahun (A- B) =
(Tk Wref A/ Wref B -1) + (Tk Ind Aa/Tk Ind Bb -Tk Wref A/Wref
B) + (Tk Wlok Aa/ Tk Wlok Bb – Tk. Ind Aa/Tk Ind Bb)
C D E
A B Pert. Tenaga Tenaga
Sektor
1980 1990 Ekonomi kerja kerja
(B-A/A) 1980 1990
Pertanian 3.694 6184 0.6741 55.441 99.427

Pertambangan 1.523 727 -0.5227 46.587 41.070

Konstruksi 13.878 39.719 1.8620 495.645 727.717

Manufaktur 28.647 40.664 0.4195 2.100.467 2.167.133

Transportasi 9.987 12.672 0.2688 528.861 625.508

Perdagangan besar 8.259 13.478 0.6319 566.268 812.777

Perdagangan kecil 41.142 75.446 0.8338 1.679.672 2.276.880

jasa 36.003 83.595 1.3219 2.058.321 3.608.896

Keuangan & 10.178 18.111 0.7794 666.218 893.430


asuransi
Non-Klasifikasi 2.296 1.435 -0.3750 77.830 38.678

Total 155.607 292.031 0.8767 8.275.310 11.315.516


F H I
G
Sektor Pert. Pert. Ekonomi Tenaga kerja
1990
Ekonomi (B-A/A) 1990
Pertanian 0.3677 0.4256 -0.1193 0.6741

Pertambangan 0.3677 -0.4862 -0.4042 -0.5227

Konstruksi 0.3677 0.1005 1.3938 1.8620

Manufaktur 0.3677 -0.3360 0.3877 0.4195

Transportasi 0.3677 -0.1339 0.0351 0.2688

Perdagangan 0.3677 0.0676 0.1966 0.6319


besar
Perdagangan 0.3677 -0.0122 0.4782 0.8338
kecil
jasa 0.3677 -0.8708 0.1280 -0.3219

Keuangan & 0.3677 0.3856 0.5686 0.7794


asuransi
Non-Klasifikasi 0.3677 -0.8708 0.1280 -0.3750

Total 0.3677 0.000 0.5090 0.8767


LOCATION QUOTIENT (LQ)
ASUMSI :
 Terdapat sedikit variasi dalam pola pengeluaran secara geografis
 Produktifitas tenaga kerja seragam
 Industri menghasilkan produk atau jasa yang seragam

DASAR UKURAN :
 Disesuaikan dengan kepentingan penelitian dan sumber data yang tersedia.
 Tujuan mencari sector memberikan kesempatan kerja banyak : data tenaga
kerja
 Tujuan mencari sector memberikan pendapatan terbesar : data pendapatan

MANFAAT :
 Potensi aktifitas ekonomi sebagai indicator basis dan non basis
 Efisiensi relatif suatu wilayah
 Terfokus pada produk substitusi impor potensial
 Terfokus pada produk ekspor potensial
LOCATION QUOTIENT (LQ)
EKONOMI
BASIS

PERMINTAAN INVESTASI

KESEMPAT
KONSUMSI
AN KERJA

PENDAPATA
N
LOCATION QUOTIENT (LQ)
FORMULA

𝑳𝑸
𝑻𝒆𝒏𝒂𝒈𝒂 𝑲𝒆𝒓𝒋𝒂 𝑺𝒆𝒌𝒕𝒐𝒓
ൗ𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑻𝒆𝒏𝒂𝒈𝒂 𝑲𝒆𝒓𝒋𝒂
=
𝑻𝒆𝒏𝒂𝒈𝒂 𝑲𝒆𝒓𝒋𝒂 𝑺𝒆𝒌𝒕𝒐𝒓 𝑹𝒆𝒇𝒆𝒓𝒆𝒏𝒔𝒊
ൗ𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑻𝒆𝒏𝒂𝒈𝒂 𝑲𝒆𝒓𝒋𝒂 𝑺𝒆𝒌𝒕𝒐𝒓 𝑹𝒆𝒇𝒆𝒓𝒆𝒏𝒔𝒊

Atau

𝑲𝒐𝒍𝒐𝒎 𝑩ൗ
𝑳𝑸 = 𝑲𝒐𝒍𝒐𝒎 𝑪
𝑲𝒐𝒍𝒐𝒎 𝑪ൗ
𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑲𝒐𝒍𝒐𝒎 𝑪
LOCATION QUOTIENT (LQ)
A B C D
Tenaga kerja Tenaga kerja
Sektor Kota X, Provinsi X, LQ
th 1980 th 1990
Pertanian 6184 99.427 2.41

Pertambangan 727 41.070 0.69

Konstruksi 39.719 727.717 2.12

Manufaktur 40664 2167133 0.73

Transportasi & Fasilitas


40.664 2.167.133 0.75
Publik
Perdagangan Besar 12.672 625.508 0.64

Perdagangan Kecil 13.478 812.777 1.28

Keuangan & asuransi 75.446 2.276.880 0.79

Jasa 83.595 3.608.896 0.90

Non-Klasifikasi 18.111 893.430 1.44

Total 1.435 38.678 1.00


ANALISIS HIRARKHI #SCALOGRAM#
PENDAHULUAN

 Struktur ekonomi : komparasi kondisi ekonomi


suatu wilayah dengan wilayah lainnya

 Struktur Sosial

 Struktur Ekonomi - politik


SKALOGRAM
ASUMSI

 Prinsip teori hirarkhi pemukiman


 Pemukiman penduduk ditata secara hirarkhi dari pusat
layanan terkecil (desa) terhubungan dengan pusat layan
terbesar (kota)
 Hirarkhi disusun berdasarkan peran masing-masing
 Kendali atas ukuran layanan pemukiman : perbedaan
struktur ekonomi dan social msh dapat diamati &
didokumentasi

DASAR UKURAN
 Metode deskriptif : teknis skala Guttman (Guttman scale)
 Ada atau tidak aktifitas social ekonomi tertentu di suatu
pemukiman
SKALOGRAM

 Analisis Pemukiman dibagi tiga bagian


 Dasar Pembagian Analisis

BASIS
SISTEM INSTITUSI
EKONOMI SOSIAL
(DIFERENSIASI) (SOLIDARITAS)

BASIS EKONOMI
POLITIK (SENTRALITAS)
SKALOGRAM
DIFERENSIASI :
 Kompleksitas struktur ekonomi
 Tipe dan jumlah pusat lokasi komersial
 Proksi derajat kekuatan & atraktifitas ekonomi suatu lokasi sbg lokasi kerja &
pemukiman

SOLIDARITAS :
 Mengukur aktifitas sosial suatu lokasi secara tidak langsung
 Jumlah & tipe diversitas sosial layanan sukarelawan & kohesi komunitas & kelembagaan
sosial
 Semakin lebar spektrum layanan sosial, semakin kaya kapasitas pemecahan masalah
suatu komunitas

SENTRALITAS :
 Seberapa baik hubungan diantara komunitas
 Sistem dlm komunitas & jaringan ekonomi politik dgn komunitas luar meningkatkan
identitas dlm komunitas atau meningkatkan perbedaan dg kelompok lain
 Sentralitas diukur dengan perkembangan hirarkhi institusi sipil ( kantor pos, perguruan
tinggi, kantor pemerintah, stasiun radio)
 Keberagaman aktifitas masyarakat sipil merupakan indikator signifikansi or sentralitas
SKALA SENTRALITAS
ASPEK Daera Daera Daera Daera Daera Daera Daera Daera Daera
hA hB hC hD hE hF hG hH hI
Organisasi 1 1 1 1 1 1 1 1 0
kota
Kantor 1 1 1 1 1 0 1 0 0
pemerintah
propinsi
Kantor 1 1 1 1 0 0 0 0 0
pemerintah
kabupaten
Kantor 1 0 0 0 1 1 0 0 0
organisasi
pusat
Kantor 1 0 0 0 0 1 0 0 0
organisasi
daerah
SKALA SOLIDARITAS
ASPEK Daerah Daerah Daerah Daerah Daerah Daerah Daerah Daerah Daerah
A B C D E F G H I

Pusat Kreasi Remaja 1 1 1 1 1 1 1 1 0

Layanan Manula 1 1 1 1 1 0 1 0 0

Layanan Jasa Balita 1 1 1 1 0 0 0 0 0

Kantor Layanan 1 0 0 0 1 1 0 0 0
Hukum

Pusat Pendidikan 1 0 0 0 0 1 0 0 0
Orang Dewasa

Layanan konseling 1 0 0 0 0 0 0 0 0
remaja

Pusat pelatihan 1 0 0 0 0 0 0 0 0
&keterampilan

Layanan jasa 1 0 0 1 0 0 0 0 0
kesehatan mental
Klinik kesehatan 1 0 0 0 1 0 0 0 0
masyarakat
Perpustakaan 1 0 0 1 0 0 0 0 0
SKALA DIFERENSIASI EKONOMI
ASPEK Daera Daera Daera Daera Daera Dae0ra Daera Daera Daera
hA hB hC hD hE hF hG hH hI

Minimarket 1 1 1 1 1 1 1 1 0
SPBU 1 1 1 1 1 0 1 0 0
Laundry 1 1 1 1 0 0 0 0 0
Café , Bar & resto 1 1 1 0 1 1 0 0 0
Bengkel 1 1 1 0 0 1 0 0 0
apotik 1 1 1 0 0 0 0 0 0
Toko pakaian 1 1 1 0 0 0 0 0 0
Salon 1 1 1 1 0 0 0 0 0
Supermarket 1 1 1 0 1 0 0 0 0
Toko bunga 1 1 1 1 0 0 0 0 0
Toko meubel 1 1 1 1 0 0 0 0 0
Praktek dokter 1 1 1 1 0 0 0 0 0
Toko perhiasan 1 1 1 1 0 0 0 0 0
Penjahit 1 0 0 1 0 0 0 0 0
Kantor pengacara 0 1 0 0 0 0 0 0 0
Praktek dokter spesialis 1 0 0 0 0 0 0 0 0
bioskop 1 1 0 0 0 0 0 0 0
PENDAHULUAN
 Multiplier berapa besar perubahan output akibat
pergeseran agregat demand karena perubahan
agregat pengeluaran
 Asumsi multiplier harga konstan

 Manfaat :
 Kegiatan perekonomian mendorong tercipta
lapangan usaha dan penyerapan tenaga kerja
 Lapangan usaha mendorong penciptaan pendapatan
masyarakat
 Mendorong upaya mengorganisir sumberdaya
CO’NT…

harga

Agregat supply

Agregat demand
Agregat demand

output
AGREGAT PRODUCTION
 Total barang dan jasa diproduksi dala
perekonomian
 Produksi actual = pendapatan actual

Produksi riil
Agregat production
(production=income)

Potential income
Pendapatan riil
AGGREGAT EXPENDITURES
 Konsumsi (C): konsumen
 Investasi (I): swasta

 Belanja pemerintah (G): pemerintaj

 Defisit/surplus dagang (eksport-import) (X-M)

Aggregat expenditure= C+I+G+(X-M)


AUTONOMOUS AND INDUCED
EXPENDITURES

 Pengeluaran berubah < Pendapatan berubah


 Pendapatan = 0, pengeluaran tetap terjadi,
pendapatan bersumber dari pinjaman atau
tabungan
 Expenditures :
 Autonomous expenditures tetap ada, meskipun
pendapatan = 0
 Perubahan autonomous expenditures (perubahan investasi
teknologi, pengeluaran pemerintah,perubahan ekspor &
impor)
 Perubahan autonomous expenditures akibat perubahan
diluar pendapatan (Mis : natural disasters, climate change,
changeconsumer choice)
 Induced expenditures : perubahan pengeluaran lebih
kecil akibat perubahan pendapatan
CON’T.
Pengeluara Perubahan
Income Perubahan
n agregat pengeluara
(Y) income (ΔY)
(AE) n (ΔAE)
0 - 1000 800
1000 1000 1800 800
2000 1000 2600 800
3000 1000 3400 800
4000 1000 4200 800
5000 1000 5000 800
6000 1000 5800 800
FUNGSI PENGELUARAN
 Hubungan antara pengeluaran agregat dan
pendapatan

AE = AEo + mpcY

AE = aggregate expenditure
AEo= Autonomous expenditures
mpc = marginal prosensity to concume
Y = Income
CON’T……
 mpc = rasio perubahan konsumsi terhadap
perubahan pendapatan
 Fraksi pengeluaran dari tambahan pendapatan
𝑝𝑒𝑟𝑢𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 ∆𝐶 ∆𝐴𝐸
 𝑚𝑝𝑐 = = =
𝑝𝑒𝑟𝑢𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 ∆𝑌 ∆𝑌
PERSAMAAN MULTIPLIER

AGGREGATE INCOME

AGGREGATE EXPENDITURE
CON’T
 𝑦 = 𝑚𝑢𝑙𝑡𝑖𝑝𝑙𝑖𝑒𝑟ൗ𝑎𝑢𝑡𝑜𝑛𝑜𝑚𝑜𝑢𝑠 𝑒𝑥𝑝𝑒𝑛𝑑𝑖𝑡𝑢𝑟𝑒𝑠
 𝑚𝑢𝑙𝑡𝑖𝑝𝑙𝑖𝑒𝑟 = 1ൗ(1−𝑚𝑝𝑐)

Mpc+mps=1

 Mps=1-mpc
 𝑚𝑢𝑙𝑡𝑖𝑝𝑙𝑖𝑒𝑟 = 1Τ𝑚𝑝𝑠
PENGGANDA PENDAPATAN
#INCOME MULTIPLIER#
TUJUAN :

 Jumlah uang beredar dibelanjakan barang dan


jasa di tingkat lokal
 Proporsi pengeluaran di tingkat local yang
dikonversi pendapatan local
 Pengeluaran lokal yang bocor karena kantor
pusat suatu usaha berada di lokasi lain atau
karena pola pengeluaran/konsumsi lokal
PENGGANDA PENDAPATAN
#INCOME MULTIPLIER#
FORMULA :

𝟏
k=
𝟏−(𝑴𝑷𝑪𝑰 𝑿 𝑷𝑺𝒀)

Dimana :

MPCI = proporsi pendapatan dibelanjakan di tingkat local


PSY = proporsi pengeluaran local menjadi pendapatan lokal
APLIKASI,………

Jika pembangunan suatu pabrik CPO diharapkan akan


meningkatkan aktifitas ekonomi lokal. Jika diestimasi
MPCI = 0,35 ( 35 % pendapatan local di belanjakan di
tingkat local). PSY= 0.45 (45% pengeluaran local
menjadi pendapatan local)

𝟏 𝟏 𝟏
k= = = = 𝟏. 𝟏𝟖
𝟏−(𝟎.𝟑𝟓 𝒙 𝟎.𝟒𝟓) 𝟏−𝟎.𝟏𝟓) 𝟏−𝟎.𝟖𝟓
Interpretasi :
Peningkatan aktifitas ekonomi daerah membangun
pabrik CPO hanya sebesar Rp.18 dari setiap Rp.1
pendapatan