You are on page 1of 28

TERAPI INHALASI

Dyah Fitriyana Sari, S.Ked J510185109


Kapindra Bagus Prabowo, S. Ked J510195003
Moch Iqbal Maulana, S. Ked J510185110

Pembimbing
dr. Novita Eva Sawitri, Sp.P

K E PA N I T E R A A N K L I N I K I L M U P E N YA K I T PA R U
FA K U LTA S K E D O K T E R A N
U N I V E R S I TA S M U H A M M A D I YA H S U R A K A R TA
2019
PENDAHULUAN
Terapi inhlasi adalah cara pengobatan dengan cara memberi obat untuk dihirup
agar dapat langsung masuk menuju paru-paru sebagai organ sasaran obatnya.

Terapi inhalasi merupakan satu teknik pengobatan penting dalam proses


pengobatan penyakit respiratori (saluran pernafasan) akut dan kronik.
Penumpukan mukus di dalam saluran napas, peradangan dan pengecilan
saluran napas ketika serangan asma dapat dikurangi secara cepat dengan obat
dan teknik penggunaan inhaler yang sesuai.

Terapi inhalasi dapat menghantarkan obat langsung ke paru-paru untuk segera


bekerja. Dengan demikian, efek samping dapat dikurangi dan jumlah obat
yang perlu diberikan lebih sedikit dibanding cara pemberian lainnya.
BAB II. TINJAUAN
P U S TA K A
TERAPI INHALASI

Terapi inhalasi adalah pemberian obat yang dilakukan secara inhalasi (hirupan)
ke dalam saluran respiratorik atau saluran pernapasan

Prinsip dasar terapi inhalasi adalah menciptakan partikel kecil aerasol


(respirable aerasol) yang dapat mencapai sasarannya, tergantung tujuan terapi
melalui proses hirupan (inhalasi).
Sasaran meliputi seluruh bagian dari sistem respiratorik, mulai dari hidung,
trakea, bronkus, hingga saluran terkecil (bronkiolus), bahkan bisa mencapai
alveolus.

Aerasol adalah dispersi dari partikel kecil cair atau padat dalam bentuk
uap/kabut yang dihasilkan melalui tekanan atau tenaga dari hirupan napas.
JENIS TERAPI INHALASI

• Nebulizer.
• Dry power inhaler(DPI).
• Metered dose inhaler(MDI).
ANATOMI DAN FISIOLOGIS SALURAN NAPAS

Saluran pernapasan dibagi atas bagian yang


berfungsi sebagai konduksi (penghantar udara)
dan bagian yang berfungsi sebagai respirasi
(pertukaran gas). Pada bagian konduksi,
berfungsi sebagai proteksi dan pengaturan
kelembaban udara. Adapun yang termasuk ke
dalam konduksi adalah rongga hidung, rongga
mulut, faring, laring, trakea, sinus bronkus dan
bronkiolus nonrespiratorius. Pada bagian
respirasi akan terjadi pertukaran udara (difus)
yang sering disebut dengan unit paru (lung unit),
yang terdiri dari bronkiolus respiratorius, duktus
alveolaris, atrium dan sakus alveolaris.
• Secara histologis epitel saluran pernapasan terdiri dari epitel gepeng berlapis
berkeratin dan tanpa keratin di bagian rongga mulut; epitel silindris bertingkat
bersilia pada rongga hidung, trakea, dan bronkus; epitel silindris rendah/kuboid
bersilia dengan sel piala pada bronkiolus terminalis; epitel kuboid selapis
bersilia pada bronkiolus respiratorius; dan epitel gepeng selapis pada duktus
alveolaris dan sakus alveolaris serta alveolus.
• Di bawah lapisan epitel tersebut terdapat lamina propria yang berisi kelenjar-
kelenjar, pembuluh darah, serabut saraf dan kartilago. Dan berikutnya terdapat
otot polos dan serabut elastin.
• Obat masuk dengan perantara udara pernapasan (mekanisme inspirasi dan
ekspirasi) melalui saluran pernapasan, kemudian menempel pada epitel
selanjutnya diabsorpsi dan sampai pada target organ bisa berupa pembuluh
darah, kelenjar dan otot polos.
TUJUAN DAN SASARAN

Terapi inhalasi ditujukan untuk mengatasi bronkospasme, meng-


encerkan sputum, menurunkan hipereaktiviti bronkus, serta
mengatasi infeksi.

Karena terapi inhalasi obat dapat langsung pada sasaran dan


absorpsinya terjadi secara cepat dibanding cara sistemik, maka
penggunaan terapi inhalasi sangat bermanfaat pada keadaan
serangan yang membutuhkan pengobatan segera dan untuk
menghindari efek samping sistemik yang ditimbulkannya.
TERAPI INHALASI

INDIKASI KONTRAINDIKASI

• Penggunaan terapi inhalasi ini • Kontra indikasi mutlak pada terapi


diindikasikan untuk pengobatan inhalasi tidak ada. Indikasi relatif
asma, penyakit paru obstruktif pada pasien dengan alergi terhadap
kronis (PPOK), sindrom obstruktif bahan atau obat yang digunakan.
post tuberkulosis, fibrosis kistik,
bronkiektasis, keadaan atau
penyakit lain dengan sputum yang
kental dan lengket.
MACAM-MACAM ALAT INHALASI
Alat
inhalasi

Inhaler Nebulizer
INHALER
Inhaler adalah sebuah alat
yang digunakan untuk
memberikan obat ke Terdapat 3 tipe
dalam tubuh melalui paru-
paru.

Metered Dose Inhaler Metered Dose Inhaler Dry Powder Inhaler


(MDI), (MDI) dengan Spacer, dan (DPI).
METERED DOSE INHALER (MDI),

• Inhaler dosis terukur merupakan cara inhalasi yang memerlukan teknik inhalasi
tertentu agar sejumlah dosis obat mencapai saluran respiratori.
• Propelan (zat pembawa) yang bertekanan tinggi menjadi penggerak,
menggunakan tabung aluminium (canister)
• Partikel yang dihasilkan oleh MDI adalah partikel berukuran < 5 μm.
• Obat dalam MDI yang dilarutkan dalam cairan pendorong (propelan), biasanya
propelan yang digunakan adalah chlorofluorocarbons (CFC) dan mungkin
freon/asrchon. Propelan mempunyai tekanan uap tinggi sehingga didalam
tabung (canister) tetap berbentuk cairan.
• Kecepatan aerosol rata-rata 30 m/detik atau 100 km/jam
MDI (Metered Dose Inhaler) dengan ruang antara
(spacer)

Ruang antara (spacer) akan menambah jarak antara aktuator dengan mulut,
sehingga kecepatan aerosol pada saat dihirup menjadi berkurang dan akan
menghasilkan partikel berukuran kecil yang masuk ke saluran respiratori yang
kecil (small airway)

Selain itu, juga dapat mengurangi pengendapan di orofaring. Ruang antara ini
berupa tabung 80 ml dengan panjang 10-20 cm. Pada anak-anak dan orang
dewasa pemberian bronkodilator dengan MDI dengan spacer dapat memberikan
efek bronkodilatasi yang lebih baik
DPI (Dry Powder Inhaler)
• Inhaler jenis ini tidak mengandung propelan, sehingga mempunyai kelebihan
dibandingkan dengan MDI.
• inhaler tipe ini berisi serbuk kering. Pasien cukup melakukan hirupan yang
cepat dan dalam untuk menarik obat dari dalam alat ini. Zat aktifnya dalam
bentuk serbuk kering yang akan tertarik masuk ke paru-paru saat menarik napas
(inspirasi).
CARA PENGGUNAAN TERAPI INHALASI
NEBULIZER
Alat nebulizer dapat mengubah obat berbentuk larutan menjadi aerosol
secara terus-menerus, dengan tenaga yang berasal dari udara yang dipadatkan
atau gelombang ultrasonik.

Aerosol merupakan suspensi berbentuk padat atau cair dalam bentuk gas
dengan tujuan untuk menghantarkan obat ke target organ,

Partikel aerosol yang dihasilkan nebulizer berukuran antara 2-5 μ, sehingga


dapat langsung dihirup penderita dengan menggunakan mouthpiece atau
masker
KLASIFIKASI

Ada dua jenis nebulizer


yang umumnya sering
digunakan:

Nebulizer jet : Nebulizer ultrasonik :


menggunakan jet gas menggunakan vibrasi
terkompresi (udara atau ultrasonik yang dipicu
oksigen) untuk memecah secara elektronik untuk
larutan obat menjadi memecah larutan obat
aerosol. menjadi aerosol.
• Nebulizer terdiri dari beberapa bagian yang terpisah yang terdiri dari generator
aerosol, alat bantu inhalasi (masker, mouthpiece) dan obatnya sendiri.
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ALAT TERAPI
INHALASI
OBAT-OBATAN
EFEK SAMPING DAN KOMPLIK ASI

Jika aerosol diberikan dalam jumlah besar, maka dapat menyebabkan


penyempitan pada saluran pernapasan (bronkospasme). Disamping itu bahaya
iritasi dan infeksi pada jalan napas, terutama infeksi nosokomial juga dapat
terjadi.
BAB III
KESIMPULAN
Terapi inhalasi adalah pemberian obat ke dalam saluran napas dengan cara
inhalasi. Terapi inhalasi merupakan satu teknik pengobatan penting dalam proses
pengobatan penyakit respiratori (saluran pernafasan) akut dan kronik.
Terapi inhalasi dapat menghantarkan obat langsung ke paru-paru untuk segera
bekerja.
Terapi inhalasi sangat bermanfaat pada keadaan serangan yang membutuhkan
pengobatan segera dan untuk menghindari efek samping sistemik yang
ditimbulkannya. Seperti untuk mengatasi bronkospasme, meng-encerkan
sputum, menurunkan hipereaktiviti bronkus, serta mengatasi infeksi.
Penggunaannya terbatas hanya untuk obat-obat yang berbentuk gas atau cairan
yang mudah menguap dan obat lain yang berbentuk aerosol.
DAFTAR PUSTAKA
• Terapi Inhalasi. Available from: URL: http://www.pharmacy.gov.my/patient_educa
tion/inhalation_malay.shtml.
• Setiawati A, Zunilda SB, Suyatna FD. Pengantar Farmakologi. Dalam: Ganiswara SG, Setiabudy R,
Suyatna FD, Purwantyastuti, Nafrialdi, Ed. Farmakologi dan Terapi. Edisi IV. Bagian Farmakologi FKUI.
Jakarta. 1995; 6.
• Rasmin M, Rogayah R, Wihastuti R, Fordiastiko, Zubaedah, Elsina S. Prosedur Tindakan Bidang Paru dan
Pernapasan–Diagnostik dan Terapi. Bagian Pulmonologi FKUI. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2001; 59-
64.
• Bia FJ, Brady JP, Brady LW, et al. Kamus Kedokteran Dorlan. Alih Bahasa: Harjono RM, Hartono A,
Japaries W, et al. Harjono RM, Oswari J, Ronardy DH, et al, Ed. EGC. Jakarta. 1994; 1910.
• Rab T. Prinsip Gawat Paru. Hipokrates. Jakarta. 1996; 1-19.
• Ganong WF. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (Review of Medical Physiology). Alih Bahasa: Andrianto P.
Oswari J, Ed. EGC. Jakarta. 1995; 609-21.
• Rab T. Ilmu Penyakit Paru. Qlintang S, Ed. Hipokrates. Jakarta. 1996; 674-81.
• Inhalation Therapy. Available from: URL: http://www.unc/~chooper/classes/voice/
webtherapy/inhalationtx.html.
TERIMAK ASIH